INDUKSI TUMOR DAN KANKER KARENA RADIASI SINAR PENGION

Bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa radiasi sinar pengion dapat menginduksi terjadinya tumor kanker, leukemia, kematian embrio dalam kandungan neoplastic maupun non-neoplastic diseases. Apalagi akhir-akhir ini makin banyak digunakan sumber-sumber sinar pengion untuk tujuan radioterapi, radiodiagnosa, radiobiologi dll. Atau meningkatnya frekuensi ledakan percobaan bom atom, baik bom H maupun bom netron, dengan ditambah oleh radiasi sinar pengion alamiah yang berasal dari sinar kosmis dan unsur radioaktif dari tanah dan batu-batuan. Dari bermacam-macam jenis sinar pengion yang ada seperti sinar alpha, sinar beta, sinar netron, sinar ultra violet, sinar-x, maka sinar gamma dan sinar netron adalah tergolong sinar pengion yang paling berbahaya. Hal ini bila ditinjau dari lokasi sumber sinar yang berada di luar tubuh. Hal ini disebabkan karena kedua jenis sinar pengion tersebut mempunyai daya tembus yang besar sampai puluhan cm ke dalam jaringan. Kemudian tingkat bahayanya disusul oleh sinar beta dan sinar alpha. Tetapi apabila lokasi sumber sinar berada di dalam tubuh, maka sinar alpha adalah yang paling berbahaya bila dibandingkan dengan yang lain.

Mekanisme induksi tumor dan kanker sebenarnya diawali dari adanya perubahan dalam DNA (asam deoksiribose nukleat) dan RNA (asam ribose nukleat) yang terdapat di dalam inti sel dari maklhuk hidup. DNA dan RNA adalah senyawa yang menyusun gen dan kromosom, dimana gen dan kromosom merupakan pusat pengendalian semua sifat dan karakter dari makhluk hidup . Sementara itu, semua proses metabolisme yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup juga dikendalikan oleh gen dan kromosom. Apabila DNA dan atau RNA terkena oleh radiasi sinar pengion dengan waktu dan tenaga yang potensial untuk menimbulkan perubahan, maka akan terjadi perubahan kimia pada komposisi DNA/RNA. Salah satu contoh perubahan yang terjadi adalah terlepasnya gugus fosfat dan gugus basanya. Gugus basa yang terikat dengan deaminasi akan pecah dari struktur siklisnya dan membentuk peroksida. Kemungkinan kerusakan DNA dapat dilihat pada gambar 1. Kerusakan DNA ini akan dilanjutkan dengan penyimpangan-penyimpangan sifat/karakter dan penyimpangan proses metabolisme yang sebelumnya secara normal dikontrol dan diatur oleh gen yang rusak tersebut. Apabila DNA/RNA tersebut merupakan penyusun ensim atau bagian dari enzim, maka enzim yang dibentuk akan menjadi inaktif. Tingkat inaktivasi enzim dinyatakan dengan angka G-value, ialah jumlah molekul enzim yang mengalami inaktivasi pada setiap terjadi penyerapan tenaga sebesar 100 eV (4). Misalnya untuk ensim DNaseI, RNase, DNaseII, Trypsin, Phosphorylase b, masing-masing mempunyai nilai G-value sebesar 0,7. 0,5, 0,4, 0,14 dan 0,19. Akibat perubahan struktur genetis dan atau gangguan terhadap sistem enzim atau proses metabolisme, maka terjadilah pertumbuhan sel atau kegiatan sel yang menyimpang dari keadaan yang normal. Hal inilah yang menybabkan timbulnya beraneka ragam tumor dan kanker ataupun penyakit sejenisnya yang diinduksi oleh sinar pengion.

Ulrich dkk (1978) di dalam percobaannya dengan menggunakan tikus betina yang disinari dengan sinar gamma yang berasal dari Cs-137 dan dengan variasi dosis 0, 50, 100 dan 200 rad, ternyata dari tiap-tiap grup tikus yang diamati terdapat gejala kanker paru-paru dan kanker payudara. Hasil pengamatan gejala kanker paru-paru masing-masing 12,8, 14,5, 16,5, dan 21,4 %. Sedangkan gejala kanker payudara pada tiap-tiap perlakuan masing-masing menunjukkan angka 7,6, 9,0, 13,2, dan 13,9 (5). Dengan menggunakan sinar-x, Philip (1978) menyinari tikus-tikus betina. Dari hasil pengamatannya diperoleh gejala kanker paru-paru sebesar 8, 10, 10,4%. Gejala kanker payudara diperoleh data 2, 14, 6 dan 9% masing-masing pada perlakuan sinar-x dengan dosis 0, 100, 200 dan 400 r. Silverman dkk (1976) mendapatkan kasus kanker pada setiap 1000 orang yang mengalami raddioterapi sinar-x pada masa kanak-kanak. Makin tinggi sinar-x yang digunakan makin tinggi pula kasus kanker yang ditimbulkannya (2). Broerse dkk. (1978) menyinari tikus betina dengan sinar gamma dan dengan variasi dosis 0, 50, 100 dan 200 rad. Dari pengamatan tiap-tiap grup tikus diperoleh gejala kanker payudara dengan persentase sebesae 0, 0,5, 0,8 dan 1,37 (7). Kanker paru-paru dan kanker payudara ternyata yang banyak diderita oleh penduduk Hiroshima dan Nagasaki yang selamat dari ledakan bom atom tetapi mendapat radiasi sinar pengion dari ledakan bom atom dengan dosis di atas 100 rad (8). Kasus leukemia juga sering muncul dan terkait dengan perlakuan sinar pengion. Barendsen dkk. (1977) menyinari tikus jantan dengan sinar-x dan dengan dosis masing-masing 75 rad dan 150 rad. Setelah dilakukan pengamatan ternyata terdapat data 18,6 dan 34,4 % dari tiap-tiap grup tikus menderita leukemia (9). Sedangkan Philip dkk (1978) melakukan penyinaran terhadap tikus dengan sinar-x dengan variasi dosis penyinaran 0, 100, 200 dan 400 r. Dari tiap-tiap grup yang diamati terdapat kasus leukemia dengan persentase 0, 1, 3 dan 5 %.(6). Vogel (1974) menggunakan sinar netron untuk menyinari tubuh tikus secara menyeluruh. Pengamatan 11 bulan setelah penyinaran menunjukkan bahwa makin tinggi sinar netron yang diberikan akan memberikan kasus tumor payudara yang makin tinggi. (gambar 3). Philip dkk (1978) mendapatkan gejala uterin tumor pada tikus-tikus betina yang disinari dengan sinar-x dengan dosis 0, 100, 200 dan 400 r. Persentase tikus yang menunjukkan gejala masing-masing adalah 6, 4, 6 dan 2% (6). Lafuna (1978) menyinari tikus dengan sinar alpha yang berasal dari isotop Pu-239 dengan variasi dosis 200, 600, 2000, 6000, dan 20.000 rad. Dari tiap-tiap grup tikus yang diamati menunjukkan kasus kanker paru-paru masing-masing sebesar 100, 42, 27, 8 dan 1,5%,

DAFTAR BACAAN

1. AHNSTROM Radiology. Manual on mutation breeding. IAEA, Vienna. 1980. p.21-28
2. SILVERMAN, C., M.L. SHORE. Low dose ionizing radiation carcinogenetic effects in man. biological and environmental effect of low level radiation II. 1976. IAEA, p.395-401.
3. SANNER,T., GIZELLA KOVACS-PROSZT. Aspects of the effects of ionizing radiation on enzymes. Improvement of food quality by irradiation. iaie vienna. 1974 p.101-116.

http://gudang-iptek.blogspot.com/2010/12/induksi-tumor-dan-kanker-karena-radiasi.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s